Sunday, August 26, 2018
Week In Politics: Trump And Sessions, McCain, David Pecker

Week In Politics: Trump And Sessions, McCain, David Pecker

We recap the week in politics, including President Trump's latest public criticism of Attorney General Jeff Sessions.

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)

ALI VELSHI: Two explosive stories...

SCOTT SIMON, HOST:

Which made for a momentous week in the Trump presidency.

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)
UNIDENTIFIED PERSON #1: We're following breaking news tonight out of Northern Virginia.

SIMON: Almost simultaneously, President Trump's former campaign manager Paul Manafort was found guilty on eight counts of bank and tax fraud...

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)
JAKE TAPPER: We have some breaking news in the case.

UNIDENTIFIED PERSON #2: (Unintelligible).

TAPPER: Michael Cohen...

SIMON: ...And the president's former lawyer and fixer Michael Cohen pleaded guilty to eight counts of tax evasion, falsifying submissions to a bank and campaign finance violations. The plea documents all but named the president.

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)
UNIDENTIFIED PERSON #3: Mr. Cohen says, at the direction of the, quote, "candidate for federal office" - that would be the now-President Trump - he arranged to make payments, quote, "for the principal purpose of influencing the election."

SIMON: Trump defended himself on Fox News and Twitter. So did press secretary Sarah Sanders...

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)
SARAH HUCKABEE SANDERS: The president has done nothing wrong. There are no charges against him. There is no collusion. That's what I can tell you about this.

SIMON: ...In back-to-back briefings.

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)
SANDERS: The president, in this matter, has done nothing wrong, and there are no charges against him.

SIMON: And this only gets us to the middle of the week. Meanwhile, not one but two of the president's intimates have been granted immunity to talk to federal prosecutors.

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)
UNIDENTIFIED PERSON #4: Allen Weisselberg, the longtime Trump Organization CFO...

(SOUNDBITE OF ARCHIVED RECORDING)
UNIDENTIFIED PERSON #5: Immunity to David Pecker, the CEO of the National Enquirer and a longtime friend...

SIMON: Ron Elving doesn't need a deal to talk to us. He's NPR's senior Washington editor. Ron, thanks for being with us.

RON ELVING, BYLINE: I hope you'll give me immunity, though, Scott, for whatever I may testify.

SIMON: Well I'll take it under advisement, all right? This is a tough crowd here. Ron, for about the 20th week in a row, my friend, is this a turning point?

ELVING: Yes, it is a turning point in the sense that this was the week we saw people turning on President Trump - Michael Cohen, as you just said. Allen Weisselberg, the chief finance officer of the Trump Organization since 2000 - has been with the company since the '70s - granted immunity to testify at least in the Cohen matter. And ditto the publisher of the National Enquirer David Pecker.
But is this the turning point that people are always on to ask about? It's not the kind of turning point where everything changes overnight. It's more like a trajectory that's been bending in one direction and is now accelerating in that direction. It's a storm that's building. You could say Hurricane Michael, as in Michael Cohen, has gone from a Category 2 up to a 3 this weekend. It's still strengthening.

SIMON: Boy, I'm getting all mixed up with the metaphors. But Michael - or Messrs., rather - sorry - Weisselberg and Pecker can probably dish a lot about Donald Trump. But what can they tell federal prosecutors that might have legal implications?

ELVING: We don't know the full scope of these deals. It could be a single-shot-rifle kind of arrangement for the crimes to which Cohen pled guilty this past week - the payments he says he made on Trump's behalf to the porn star and to suppress the story of the Playboy model.
But if it's more like a shotgun immunity for any and all subjects, that could be a far more lethal weapon against the president because the assumption is no one knows more about his finances than Weisselberg. He's been with the Trump Organization all that time - and that few would know as much about Trump's personal life as the publisher of the National Enquirer, who's a longtime friend and, apparently, a longtime collaborator.

SIMON: In the middle of all this, President Trump did everything but throw a banana cream pie into Jeff Sessions' face. It sounds like he wants to boil him in oil. Do you see any chance the attorney general of the United States will be fired?

ELVING: The apparent strategy has been to humiliate him and force him to resign. But that hasn't worked so far. This week, Sessions said he would defend the department against political influence and interference. So if Sessions won't jump, yes, he could be pushed. And we can't rule out that the president could step in to fire people or otherwise interfere in the special counsel's investigation using his powers. There are surely other people who would like to have Sessions' job. And there are moves afoot in Congress to restructure the Justice Department and possibly reduce the independence of the special counsel.

SIMON: Amid all the President Trump news, very sad news out of Arizona this week - Senator John McCain, one of the most - I think we can fairly say - respected and revered people in public life of except, perhaps, the White House. John McCain has decided to end his treatment for brain cancer.

ELVING: This news has been expected since the senator began his treatments last summer. But there was hope, as he himself expressed in his last memoir. But he also expressed in that book his acceptance of what may be ahead and his deep gratitude for his extraordinary life of 81 years.

SIMON: As always, thanks so much. Ron Elving, NPR senior editor. Thanks very much.

ELVING: Thank you, Scott.


Copyright © 2018 NPR. All rights reserved.  
Monday, July 16, 2018
Upacara Pawintenan, Cara Bupati Karangasem Memulai Tahun Anutan Baru

Upacara Pawintenan, Cara Bupati Karangasem Memulai Tahun Anutan Baru

Todays News - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem Bali menggelar upacara memohon ilmu pengetahuan atau Pewintenan. Upacara melibatkan ribuan siswa baru, yang terdiri dari SMP, Sekolah Menengan Atas dan Sekolah Menengah kejuruan di Kabupaten Karangasem.

Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Karangasem, I Gusti Ayu (IGA) Mas Sumatri, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karangasem I Gusti Ngurah Kartika, dan Direktur Urusan Agama Hindu Dirjen Bimas Hindu Kemenag, I Wayan Budha.

Bupati Mas Sumatri secara resmi membuka upacara Pewintenan pada Jumat (13/07) di Taman Budaya Candra Buana Bhuwana Amlapura.

Upacara Pawintenan yaitu tradisi yang dilakukan oleh pelajar Hindu di Bali. Upacara ini bertujuan untuk memohon kesehatan jasmani dan rohani biar sanggup mendapatkan ilmu pengetahuan.

Upacara Pawintenan ini melibatkan 2.000 siswa gres dari SMP, Sekolah Menengan Atas dan Sekolah Menengah kejuruan di Kabupaten Karangasem.

“Pelaksanaan Pawintenan bagi siswa gres dilandasi oleh nilai fatwa agama Hindu, bahwa memulai mempelajari sesuatu yang gres wajib mohon restu biar senantiasa diberikan petunjuk berguru dengan baik dan berharap ilmu tersebut bermanfaat," kata IGA Mas Sumantri melalui siaran tertulisnya kepada Todays News, Sabtu (14/7).

Untuk itu, lanjut IGA Sumantri, yang menjadi landasan bagi pelajar yaitu niat dan tata krama yang baik. Sebab ilmu pengetahuan menyerupai pisau bermata dua.

"Bisa jadi bermanfaat saat berada pada orang yang baik, namun sanggup pula menghancurkan keberadaban insan kalau berada pada orang yang jahat," terang dia.

"Pelaksanaan Pawintenan dilandasi oleh harapan biar ilmu pengetahuan berada pada orang yang baik, biar kelak sanggup bermanfaat bagi umat manusia," pungkasnya.

(mam/JPC)

Let's block ads! (Why?)

https://www.jawapos.com/read/2018/07/14/227807/upacara-pawintenan-cara-bupati-karangasem-memulai-tahun-ajaran-baru
Pss Sleman Tak Remehkan Semeru Fc

Pss Sleman Tak Remehkan Semeru Fc

Todays News - Jelang menghadapi Semeru FC di Stadion Maguwoharjo Sleman, tuan rumah PSS Sleman menyanjung tamunya tersebut. Mereka dinilai memiliki motivasi yang tinggi terhadap setiap tabrak yang dihadapi.

"Mereka punya motivasi yang bagus. Dari sisi pemain juga sudah banyak berubah, meski pelatihnya Putut (Wijanarko, Red) sudah dua demam isu di sana," kata Pelatih Kepala PSS, Seto Nurdiyantara, Sabtu (14/7).

Pada pertemuan sebelumnya ketika uji coba, PSS memang berhasil mengalahkan Semeru FC dengan skor 3-2. Namun kemenangan tersebut tak akan dijadikan patokan untuk menghadapi Semeru FC pada Minggu (15/7) nanti. "Kita lihat apa yang terjadi besok di lapangan," katanya.

Dalam pertandingan nanti, skuad PSS kemungkinan masih belum dapat diperkuat oleh beberapa pemain utama menyerupai Syamsul Chairuddin, I Made Wirahadi, dan Sahrul Kurniawan yang masih dalam masa penyembuhan cedera.

Seto mengatakan, beliau tak mau memaksakan para pemainnya itu berlaga meski Syamsul Chairuddin dalam laga-laga sebelumnya sudah dimainkan. "Syamsul sempat main, tapi hanya untuk penyesuaian saja kemarin," katanya.

Laga yang akan digelar di Stadion Maguwoharjo Sleman tersebut akan dimulai pada pukul 19.00. Pihak panitia pelaksana pertandingan juga telah menyiapkan 27 ribu lembar tiket.(dho/JPC)

(dho/JPC)

Let's block ads! (Why?)

https://www.jawapos.com/read/2018/07/14/227786/pss-sleman-tak-remehkan-semeru-fc
Anak-Anak Imigran Dapat Terkena Penyakit Fisik Dan Mental

Anak-Anak Imigran Dapat Terkena Penyakit Fisik Dan Mental

Todays News - Anak-anak migran yang dipisahkan dengan orang renta mereka di perbatasan Amerika Serikat (AS) - Meksiko sepertinya butuh bimbingan khusus. Pasalnya, pemisahan tersebut sanggup menciptakan imbas jelek bagi anak-anak.

Dokter anak dan para jago stress berat anak mengatakan, memisahkan belum dewasa migran dengan orang renta mereka sanggup menjadikan sakit fisik dan mental. Karena itu, dikala ini para jago stress berat anak tengah menyerukan bahwa belum dewasa migran yang rata-rata berasal dari Guatemala dan Meksiko itu dalam kondisi bahaya. Sebab, hal itu sanggup menjadikan kerusakan fisik dan psikologis yang serius.

Selain itu, kasus tersebut juga memunculkan semakin banyaknya dongeng perihal belum dewasa yang dipisahkan dari orang renta mereka. Para dokter dan ilmuwan memperingatkan bahwa kemungkinan besar ada imbas kesehatan jangka panjang yang tidak sanggup dipulihkan pada anak-anak.

"Ini benar-benar konyol, dan aku melaksanakan pendekatan ini bukan sebagai seseorang yang mengambil posisi dalam politik, tetapi sebagai seorang ilmuwan," kata Charles A Nelson III, seorang profesor pediatri dan neuroscience di Harvard Medical School sebagaimana dilansir dari BBC, Sabtu (14/7).

Dari pertengahan April sampai Mei tahun ini, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS telah memisahkan hampir 2.000 belum dewasa dari orang renta mereka. Orang-orang remaja dipenjara alasannya menyeberang perbatasan secara ilegal di bawah kebijakan pemerintahan presiden AS Donald Trump. Sementara belum dewasa mereka dipindahkan ke penampungan yang diawasi oleh Kantor Pengungsian.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan menyampaikan bahwa belum dewasa ditahan rata-rata 57 hari. Akan tetapi ada laporan orang renta bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan belum dewasa mereka.

Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri Kirstjen Nielsen menyampaikan kepada wartawan bahwa belum dewasa dirawat dengan baik. "Kami mempunyai standar yang tinggi. Kami memberi mereka makanan dan kami memberi mereka pendidikan juga memberi mereka perawatan medis. Ada video, ada TV," katanya.

Namun, salah satu profesional dalam perawatan kesehatan anak menyampaikan bahwa walaupun belum dewasa cukup makan dan kondusif secara fisik, hal itu tidak mengatasi risiko imbas negatif jangka panjang pada sistem kekebalan mereka. Termasuk perkembangan otak mereka bahkan bentuk kepribadian mereka.

(iml/JPC)

Let's block ads! (Why?)

https://www.jawapos.com/read/2018/07/14/227745/anak-anak-imigran-bisa-terkena-penyakit-fisik-dan-mental
Belum Genap 1 Tahun, Akseleran Sudah Salurkan Sumbangan Rp 68 Miliar

Belum Genap 1 Tahun, Akseleran Sudah Salurkan Sumbangan Rp 68 Miliar

Todays News - PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) menyalurkan pemberian modal perjuangan sebesar Rp 68 miliar kepada 160 peminjam semenjak Oktober 2017 sampai Juni 2018. Pada Desember 2018, Akseleran menargetkan penyaluran pemberian sebesar Rp 200 miliar. 

"Pencapaian ini menjadi yang tercepat dibandingkan perusahaan peer to peer (P2P) lending lain di Indonesia," kata CEO Akseleran Ivan Tambunan di Jakarta, Sabtu (14/7).

Dia menuturkan ketika ini masyarakat sudah semakin menyadari keberadaan Akseleran sebagai sarana untuk melaksanakan investasi yang kondusif dan juga menguntungkan.

Disamping itu, Ivan juga mengungkapkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap pembiayaan dengan model P2P lending juga semakin meningkat. Masyarakat sudah semakin memahami mana saja P2P lending yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Saat ini rata-rata pemberian di platform Akseleran nilainya Rp 500 juta dengan bunga sekitar 18-20 persen pertahun dengan NPL stabil di angka nol persen," jelasnya.

(uji/JPC)

Let's block ads! (Why?)

https://www.jawapos.com/read/2018/07/14/227798/belum-genap-1-tahun-akseleran-sudah-salurkan-pinjaman-rp-68-miliar
Urus Paspor Haji Sehari Jadi

Urus Paspor Haji Sehari Jadi

Todays News - Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya melaksanakan persiapan terkait manajemen keberangkatan calon jamaah haji. Mereka akan datang di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Senin (16/7) lusa.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya Tamin Satiawan mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan pelayanan pembuatan paspor. Sebanyak 5.000-an dari 8.000 paspor akan diberikan kepada calon jamaah haji.

Petugas akan melayani pembuatan paspor selama 24 jam. Layanan paspor dilakukan petugas yang terbagi dalam 7 shift (Unit A sampai F). "Kami pastikan tidak akan ada keterlambatan. Paspor sudah seratus persen tamat disiapkan," kata Satiawan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Sabtu (14/7).

Imigrasi tidak hanya menyiapkan paspor untuk para calon jamaah haji. Petugas juga akan mengantisipasi hambatan lain. Misalnya, jikalau ada calon jamaah haji yang kehilangan paspor. Maka petugas akan mengurus pembuatan paspornya.

Selain itu, petugas akan menyediakan buku paspor cadangan. Namun ketersediaannya tergantung dari adanya jamaah yang membatalkan keberangkatan sebab sakit atau meninggal dunia.

Karenanya, Satiawan mengimbau calon jamaah haji jikalau ada yang kehilangan atau belum mengurus paspor. "Selama para jamaah memenuhi syarat pembuatan paspor, akan kami urus. Sehari sanggup selesai. Supaya para jamaah tak perlu ribet," tandas Satiawan.

Imigasi tidak akan ada proses investigasi dan pengetatan barang bawaan jamaah. Namun investigasi pencocokan paspor dan identitas akan tetap dilakukan. Tujuannya untuk menghindari insiden jamaah yang tertukar.

Jika ada jamaah yang kedapatan memakai paspor palsu, akan dilakukan pembinaan. "Tapi kami usahakan secepatnya diberangkatkan jikalau memang masih ada waktu. Orang ibadah nggak perlu pakai sanksi," tegas Setiawan.

Kasie Informasi Haji Kemenag Jatim Sutarno menambahkan, tidak akan ada kesalahan dalam pendistribusian paspor. Termasuk buku visa bagi para calon jamaah haji.

Pasalnya, pengajuan visa dan paspor ditangani pribadi pihak Kemenag. Bukan lagi diurusi Kedutaan Besar Arab Saudi. "Kami pastikan tidak akan ada paspor dan visa yang tertinggal di Arab Saudi," tutur Sutarno.

Saat ini, Kemenag Jatim sudah menyiapkan 12.729 dari 35.0000 visa yang diajukan dari Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Belasan ribu visa tersebut akan digabung dengan 5.000-an paspor yang sudah disiapkan pihak Imigrasi. "Kami sudah siap tim yang akan berangkat ke Jakarta jikalau buku visa sudah sanggup diambil," tukas Sutarno.

(HDR/JPC)

Let's block ads! (Why?)

https://www.jawapos.com/read/2018/07/14/227769/urus-paspor-haji-sehari-jadi